Ini sebuah cerita dari khazanah para sufi. Dikisahkan, Mulla Nasruddin mondar-mandir di halaman rumahnya, sambil mengais-ngais tanah yang berpasir. Tetangganya lalu bertanya kepadanya, apa yang sedang dia lakukan. Mulla Nasruddin menjawab, Aku mencari jarumku yang hilang. Memangnya jarum itu jatuh dimana? Usut tetangganya lebih jauh. Di dalam rumah, kata Nasruddin singkat.
Tapi kenapa kau tidak mencarinya didalam rumahmu? Malah di halaman ini? Bagaimana mungkin engkau mencari jarum hilang bukan ditempatnya hilang? Dengan nada mantap Nasruddin menjawab, Di dalam rumah gelap, di halaman ini terang, jadi saya mencarinya di halaman ini.
Seperti biasa, cerita humor atau anekdot-anekdot sufi, kendati ia lucu, namun ia bukanlah sebuah lawakan atau banyolan untuk menggelitik urat tawa.
Mungkin kita menertawakan Nasruddin yang begitu konyol mencari sesuatu yang hilang (jarum) bukan di tempat jarum itu hilang. Betapa bloonnya Nasruddin, mengharap menemukan sesuatu di tempat yang dia sendiri tahu tidak mungkin dia dapatkan di situ, sebab bukan di situ tempatnya. Nah kalau kita sudah bisa berkata betapa lucu dan konyolnya Nasruddin, itu berarti kita sudah berkata betapa seringnya kita lucu dan konyol seperti itu, sudah tahu tidak mungkin ada sesuatu yang kita cari di suatu tempat tapi kita masih saja terus mencarinya di situ.
Kita sadar bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini adalah kebahagiaan. Ketika kebahagiaan itu tidak ada atau hilang dalam hati kita, maka kita lalu berusaha mendapatkannya kembali. Kita akan berusaha mencarinya. Hanya saja anehnya, seperti cerita Nasruddin tadi, kita mencari kebahagiaan yang hilang ( di dalam hati ) itu di tempat lain. Ada di antara kita mencarinya habis-habisan di harta. Ada yang mencarinya di kekuasaan atau jabatan. Ada yang mencari di benda-benda, di rumah mewah, di mobil mahal, di tempat-tempat hiburan. Setelah frustasi mencarinya di tempat-tempat itu namun tidak juga ditemukan, ada yang bahkan mencarinya di sebuah dunia halusinasi yang diciptakan sendiri melalui minuman keras dan bahkan narkoba.
Sebenarnya itulah cerita ulah kita dalam hidup yang ada dalam humor sufi Mulla Nasruddin tadi. Ulah Nasruddin yang lucu dan konyol tidak lain adalah ulah kita sendiri. Nasruddin tidak mau mencari jarum yang hilang di dalam rumahnya dengan alasan gelap, seperti kita tidak mau mencari kebahagiaan yang hilang dari hati kita dihati kita sendiri, karena hati kita gelap. Kita tidak mau susah payah. Kita pilih jalan mudah, kendati kita sadar tidak mungkin mendapatkannya di situ. Betapa lucunya, alangkah konyolnya.
Ditulis oleh indracristian



